Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 September 2014
Mahasiswa Indonesia Dekat TKP Saat Bom Meledak

Saat ledakan bom di Boston, AS, terjadi Senin sore waktu setempat, Irmawati Dewanto, mahasiswa Indonesia di kota itu, berada sekitar 500 meter dari lokasi ledakan. Ia sedang mengikuti kelas khusus saat itu. Berikut ini adalah wawancara wartawanVOA, Eva Mazrieva dengan Irmawati Dewanto.
VOA: Dapatkah Anda ceritakan bagaimana situasi di Copley Square beberapa saat setelah ledakan tadi?
Irmawati: Ledakan terjadi sekitar jam 02.50 PM (sore). Saat itu saya sedang berada di dalam kelas, di dalam gedung di Arlington Street sekitar 500 meter dari lokasi ledakan. Tiba-tiba kami mendengar ledakan. Tampak asap membubung tinggi. Tak lama terdengar suara sirene polisi dan ambulans. Kami keluar gedung dan melihat orang-orang berlarian di jalan, panik sambil berteriak-teriak “Ada bom… ada bom”. Memang saat itu sedang ada event besar Boston Marathon jadi suasana kacau.
VOA: Lalu Anda mencoba mendekati lokasi dan menemukan beberapa stasiun KA di dekat lokasi ditutup?
Irmawati: Stasiun Copley Square memang ditutup sejak pagi karena dipersiapkan untuk acara Boston-Marathon. Menurut rencana beberapa saat menjelang acara berakhir seharusnya dibuka, tapi karena ada ledakan ditutup. Ini baru saja polisi dan otorita KA memberitahu dua jalur yang ada, merah dan biru, baru dibuka kembali. Namun warga diminta pulang ke rumah, tidak berkumpul di Copley Square. Juga kalau berjalan diminta tidak dalam rombongan besar.
VOA: Ini informasi anda dapat lewat teks atau online?
Irmawati: Tidak. Ini informasi yang diteriakkan polisi di jalan-jalan. Saya sekarang masih berada di sekitar Arlington Street. Semua kelas memang dibatalkan tapi teman-teman masih ingin melihat ke lokasi. Apalagi karena memang situasi di sini padat. Sinyal telpon kami juga diacak. Mungkin untuk mengantisipasi terjadinya pengaktifan bom lewat telepon seluler. Karena seperti Eva sudah tahu, setelah dua ledakan di garis finis Boston Marathon, terjadi juga ledakan di JFK Library di Universitas Massachusetts. Jadi, memang suasana yang saya tangkap di sini sekarang, warga, petugas sama-sama panik. Semua juga sedang mencari informasi. Karena selain para pelari dan supporternya, banyak keluarga yang menonton acara ini. Hari Senin ini adalah hari pertama Spring-Break, jadi anak-anak sekolah libur dan mereka menghabiskan hari dengan berjalan-jalan di sekitar Copley Square ini. Saat tidak ada bom saja, situasi di Copley Square ini padat, apalagi ada bom! Yang bikin saya sedih, Boston Marathon ini dijadikan ajang untuk mengenang penembakan di SD Sandy Hook, Newtown, yang menewaskan 26 orang (termasuk 20 anak-anak). Menurut rencana di kilometer ke 26 akan dibuat memorial untuk mengenang mereka. Tapi, pemboman ini membuat suasana jadi campur aduk, orang berduka, sedih, marah. Suasana Boston yang tadinya gembira karena libur dan cuaca hangat, tapi sekarang jadi berduka, suram, marah. Sulit saya menjelaskannya.
VOA: Sekarang ini Copley Square masih ditutup?
Irmawati: Masih. Kalau pun stasiun KA disini dibuka dan KA bisa lalulalang di bawah tanah, tapi pintu stasiun Copley tetap ditutup. Kita harus turun satu stasiun sebelum atau setelah Copley. Polisi masih menutup stasiun itu. Petugas polisi, ambulans, pemadam kebakaran masih hilir mudik. Beberapa ratus meter dari lokasi juga masih dikasih garis kuning dan tidak bisa dilintasi.
VOA: Kondisi keamanan di seluruh kota di AS kini ditingkatkan, termasuk di Washington DC. Karena peristiwa ini disebut-sebut sebagai “on going event”. Anda sendiri melihat memang ada kemungkin terjadinya ledakan lagi?. Atau suasana disana masih tegang?
Irmawati: Ya. Itulah sebabnya saya rasa mengapa polisi dan walikota meminta kita pulang. Tidak bergerombol. Mereka juga mencari saksi mata sebanyak-banyaknya. Semua yang ada di lokasi masih diwawancara. Semua tampak masih sangat khawatir apalagi ada ledakan susulan di JFK Library tadi. Jadi kemungkin masih ada bom berikutnya memang sangat terasa. Orang khawatir, takut”.
Sumber : http://internasional.kompas.com/read/2013/04/16/10412665/Mahasiswa.Indonesia.Dekat.TKP.Saat.Bom.Meledak?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Minggu, 01 Juni 2014
10 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia
Pada hari ini juhanasblog.blogspot.com akan menyampaikan berita tentang 10 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia. Semoga dengan posting 10 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia akan menambah wacana untuk anda pembaca setia juhanasblog.blogspot.com
10 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia - Stasiun kereta adalah tempat dimana sebuah kereta berhenti untuk manaikan dan menurunkan penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya, sebelum populer bahkan sebelum ditemukannya mobil dan motor ternyata kereta api telah ada sebelumnya. ini juga yang tejadi di Indonesia silam saat masih dalam kolonial Belanda. nah sekarang kita akan bahas 10 stasiun kereta tertua di Indonesia.
10. Stasiun Ijo (1880)

Stasiun Ijo (IJ) adalah stasiun kereta api yang terletak di sebelah barat Stasiun Gombong. Secara administratif, stasiun ini berada di Desa Bumiagung, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen. Selain sebagai stasiun persilangan, fungsi lainnya adalah sebagai pengontrol terowongan jalur rel (disebut Terowongan Ijo) yang berada di sisi timur stasiun ini.
Pengelolaan stasiun yang terletak pada ketinggian +25 m dpl ini berada di bawah Daerah Operasi 5 Purwokerto. Stasiun yang dibangun pada pertengahan tahun 1880-an ini jarang disinggahi oleh kereta api. Stasiun berperon sisi ini memiliki tiga jalur rel.
9. Stasiun Malang Kotalama (1879)

Stasiun Malang Kotalama (MLK) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kecamatan Sukun, Malang. Stasiun yang berada pada ketinggian +429 m dpl ini berada di Daerah Operasi 8 Surabaya. Stasiun ini merupakan stasiun KA paling selatan yang berada di Kota Malang, dan tertua, dibangun pada tahun 1879. Penambahan nama Kotalama dimaksudkan untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kotabaru yang dibangun belakangan. Dari Stasiun Malang Kotalama terdapat percabangan rel yang menuju ke Dipo Pertamina.
8. Stasiun Surabaya Kota (1878)

Stasiun Surabaya Kota (SB) yang populer dengan nama Stasiun Semut terletak di Bongkaran, Pabean Cantikan, Surabaya. Letaknya sebelah utara Stasiun Surabaya Gubeng dan juga merupakan stasiun tujuan terakhir di kota Surabaya dari jalur kereta api selatan pulau Jawa yang menghubungkan Surabaya dengan Yogyakarta dan Bandung serta Jakarta. Stasiun lain yang juga penting di Surabaya adalah Stasiun Pasar Turi yang menghubungkan Surabaya dengan Semarang. Baru dalam masa kemerdekaan, Jawatan Kereta Api mengadakan layanan kereta api antara Jakarta dan Surabaya Pasar Turi melalui Semarang.
Berdasarkan sejarahnya, Stasiun Surabaya Kota dibangun ketika jalur kereta api Surabaya-Malang dan Pasuruan mulai dirintis sekitar tahun 1870. Tujuannya untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman Jatim, khususnya dari Malang, ke Pelabuhan Tanjung Perak yang juga mulai dibangun sekitar tahun itu. Gedung ini diresmikan pada tanggal 16 Mei 1878. Dengan meningkatnya penggunaan kereta api, pada tanggal 11 Nopember 1911, bangunan stasiun ini mengalami perluasan hingga ke bentuknya yang sekarang ini.
7. Stasiun Purwosari (1875)

Stasiun Purwosari (PWS) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502, Purwosari, Lawiyan, Surakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +98 m dpl ini berada di Daerah Operasi 6 Yogyakarta.
Stasiun Purwosari dibangun pada tahun 1875, dan merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunannya ditangani oleh NISM. Stasiun Purwosari berada di wilayah Mangkunegaran.
6. Stasiun Solo Balapan (1873)

Stasiun Solo Balapan (kode: SLO, +93m) adalah stasiun induk di Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Surakarta yang menghubungkan Kota Bandung, Jakarta, Surabaya, serta Semarang. Stasiun ini didirikan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19 (tepatnya 1873)
5. Stasiun Kedungjati (1873)

Stasiun Kedungjati (KEJ) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kedungjati, Kedungjati, Grobogan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +36 m dpl ini berada di Daerah Operasi 4 Semarang. Stasiun Kedungjati diresmikan pada bulan 21 Mei 1873.
Arsitektur stasiun ini serupa dengan Stasiun Willem I di Ambarawa, bahkan dulu beroperasi jalur KA dari Kedungjati ke Ambarawa, yang sudah tidak beroperasi pada tahun 1976. Pada tahun 1907, Stasiun Kedungjati yang tadinya dibangun dari kayu diubah ke bata berplester dengan peron berkonstruksi baja dengan atap dari seng setinggi 14,65 cm.
4. Stasiun Ambarawa (1873)

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.
Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.
3. Stasiun Lempuyangan (1872)

Stasiun Lempuyangan (kode: LPN, +114 m dpl) adalah stasiun kereta api yang terletak di Kota Yogyakarta, berjarak sekitar 1 km di sebelah timur dari stasiun utama di kota ini, yaitu Stasiun Yogyakarta. Stasiun yang didirikan pada tanggal 2 Maret 1872 ini melayani pemberhentian semua KA ekonomi yang melintasi Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan beserta dengan rel yang membujur dari barat ke timur merupakan perbatasan antara Kecamatan Gondokusuman di utara dan Danurejan di selatan.
2. Stasiun Semarang Tawang (1868)

Stasiun Semarang Tawang (kode SMT) adalah stasiun induk di Tanjung Mas, Semarang Utara, Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan bisnis. Kereta api ekonomi tidak singgah di stasiun ini. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia setelah Semarang Gudang dan diresmikan pada tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Tanggung. Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Pada tahun 1873 jalur ini diperpanjang hingga Stasiun Solo Balapan dan melanjut hingga Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta.
1. Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari (1864)

Stasiun ini dibangun pada tanggal 16 Juni 1864 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Untuk pengoperasian rute ini, pemerintah Belanda menunjuk Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah satu markas NIS yang sekarang dikenal sebagai Gedung Lawang Sewu. Dan tepatnya pada 10 Agustus 1867 sebuah kereta meluncur untuk pertama kalinya di stasiun ini.
Dapatkan berita terupdate dan unik setiap saat hanya di juhanasblog.blogspot.com
Homepage|http://juhanasblog.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)